Senin, 21 Maret 2022

DESA LINGGA

                                               PEMASARAN UMKM DESA LINGGA 



Lingga adalah salah satu desa yang menjadi daerah tujuan Desa wisata di Kabupaten Karo Sumatra Utara yang terletak di ketinggian sekitar 1.200 m dari permukaan laut, lebih kurang 76,5km dari Medan dan 5 km dari Kota Kabanjahe ibu kabupaten Karo di desa ini terdapat bangunan rumah Tradisional Karo berusia 250 tahun yang dikenal dengan nama Rumah Siwaluh Jabu dihuni oleh 8 kepala keluarga yang hidup berdampingan dalam keadaan damai dan tenteram. Bahan bangunan rumah tradisionil ini dari kayu bulat, papan, bambu dan beratap ijuk tanpa menggunakan paku yang dikerjakan tenaga arsitektur masa lalu. Jarak dari Kota Berastagi ke obyek wisata ini 15 Km yang dapat menggunakan kenderaan umum dan juga kendaraan (bus) wisata.

Desa Lingga memiliki kontruksi tradisional seperti: rumah adat, jambur, geriten, lesung, sapo page (sapo ganjang)dan museum karo. Geriten, dipakai sebagai tempat penyimpanan kerangka jenazah keluarga atau nenek (leluhur)sang pemilik. Rumah adat karo mempunyai ciri serta bentuk yang sangat khusus, didalamnya terdapat ruangan yang besar dan tidak mempunyai kamar-kamar. Satu rumah dihuni 8 atau 10 keluarga. Rumah adat berupa rumah panggung, tingginya sekitar 2 meter dari tanah yang ditopang oleh tiang, umumnya berjumlah 16 buah dari kayu ukuran besar. Sebenarnya Desa Lingga cukup memiliki andil dalam terbentuknya Kabupaten Karo, tapi sangat disayangkan cerita-cerita sejarah mengenai desa ini tidak banyak yang terdokumentasi. Desa Lingga merupakan bekas Kerajaan Lingga tanah Karo, yang dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Sibayak Lingga, Sibayak Lingga yang pertama masih memiliki hubungan keluarga dengan Raja Linge di Gayo (Aceh). Pada zaman Belanda, Kesibayaken Lingga membawahi enam urung (kerajaan kecil) yaitu 

- Urung XII Kuta berpusat di Kabanjahe (Ibu Kabupaten Karo sekarang)

- Urung si III Kuru berpusat di Lingga

- Urung Naman berpusat di Naman

- Urung Tiga Pancur berpusat di Tiga Pancur

- Urung Teran berpusat di Batukarang

- Urung Tiganderket berpusat di Tiganderket

Masyarakat desa Lingga juga mengenal beberapa tokoh yang melegenda yang kisahnya menurun secara lisan dari mulut ke mulut yaitu selang lain :

Nini Perkambing-kambing

Nini = aki; opung. Nini Perkambing-kambing atau penggembala kambing diyakini memiliki kemampuan magis yang tinggi sebab konon beliau memiliki sebuah cincin sakti yang bernama cincin Si Pinta-pinta yang bisa mengabulkan apa saja harapan sang pemilik, kehebatan cincin ini juga yang kemudian menjadi bumerang ketika sang tokoh memiliki permintaan yang melawan kodrat yaitu mau memiliki seorang anak dari perutnya sendiri, sehingga mengakibatkan kepada kematian sang tokoh. Kuburan Nini Perkambing-kambing ini masih dikeramatkan oleh sebagian penduduk desa terutama masyarakat yang masih menganut agama animisme

Nini Sigedang Isap

Bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia Nini Sigedang Isap bisa diartikan Kakek Berokok Panjang, julukan ini diberikan sebab budaya sang tokoh menggunakan pipa rokok yang panjang. Menurut kisah lisan yang ada tokoh ini memiliki perbuatan yang berguna besar kepada masyarakat desa dalam hal penentuan ketentuan yang tidak boleh dilampaui kawasan perladangan penduduk desa dengan desa tetangga, yaitu melaui sebuah adu kesaktian yang diselenggarakan di atas sebuah bukit, yang berkesudahan dimenangkan oleh sang tokoh. Untuk menghormati perbuatan yang bergunanya batu alas (pondasi) rumah sang tokoh saat ini diabadikan menjadi sebuah tugu kecil di desa Lingga, bahkan ditemukan juga satu tempat pemujaan untuk sang tokoh.

Nini Tengku

Nini Tengku yaitu seorang tokoh yang bersumber dari kawasan Aceh, datang ke Desa Lingga dalam misinya menyebarkan agama Islam ke Tanah Karo, khususnya Desa Lingga dan sekitarnya. Sang Tokoh bermukim di perbatasan selang Desa Lingga dengan Desa Surbakti, Nini tengku dikisahkan juga memiliki kemampuan supranatural yang tinggi, kuburan Nini Tengku juga dikeramatkan oleh sebagian penduduk desa, bahkan beberapa generasi yang lalu penduduk desa kerap menerapkan ritual pemanggilan hujan di makam sang tokoh.

Adapun produk umkm yang ingin di pasarkan yaitu 

      KULCAPI


Kulcapi adalah alat musik tradisional Suku Karo dari Sumatra Utara yang sering dipergunakan pada upacara ritual, upacara adat, dan juga pertunjukan musik Karo.kulcapi terbuat dari pohon yang keras seperti pohon ingul,tualang dll.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar